KKL 2 in the hoy

Posted: Juni 30, 2012 in Gegayuhan

postingan kedua saya kali ini ingin berbagi mengenai kegiatan Kuliah Kerja Lapangan 2. lebih tepatnya pamer foto foto kegiatan KKL 2 yang sangat seru..

KKL 2 geografi uns angkatan 2009 dilaksanakan di wonogiri, Yaitu berada di DAS Biru yang berada di dua Kecamatan yaitu KEC. Purwantoro dan KEC Bulukerto.. Ini dia Peta Lokasi KKL kami :

kegiatan KKL dilaksanakan tgl 3 juni ampe 5 juni.

secara kebetulan aku terpilih menjadi panitia seksi penginapan dan transportasi. .. ya sewaktu menjalanin amanah itu lumayan ketetran juga,, tp alhmamdullilah semua teratasi..

Dan akhirnya pagi pagi jam 06.00 semua temen temen sudah banyak yang kumpul..tinggal nungguin dosen (KAPRODI) sama PAK SARWONO buat pelepasan ..waktu semakin siang dan diapun belumdatang,, aku semakin panik, karena pernjanjian sama sopir BUS kita berangkat jam 07.00 tepat.. ….. Dan jam  07.15 pun belum datang,,, akhirnya jam 07.30 sarwono dateng,, yeyeyeye,, Kita pun berangkat..

 

langsung aja ke basecamp (baca:penginapan),,
ini diapenginapan yg cowok…

dan ini penginapan yg cewek

agak kontras memang, soalnya mewah yg cowo rumahnya..tp mau gimana lagi adanya ya cuma itu,, mau tukeran rumah yg cewek pindah ke yg cowok juga ga bisa,, akhirnya cowok pake rumah yg mewahhh,,hehehe

Begitu sampe ditempat langsung brieving(bener ga ya nulisnya?),, dan langsung tracking. Hari pertama Tracking masih dibimbing sama dosen,, Ada 3 Satuan lahan yg kami kunjungi,,

ini dia foto2 hari pertama

LAPORAN

SIG LANJUT

(TEMA HIDROLOGI)

A.    Judul : Pemetaan Tingkat Kebutuhan Air Domestik Kecamatan Cepogo tahun 2008
B.     Latar Belakang

Air merupakan salah satu unsur utama untuk kelangsungan hidup manusia. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan manusia akan air, keberadaan air semakin lama dirasa semakin berkurang. Hal tersebut menyebabkan manusia berusaha untuk mengatasi masalah–masalah yang disebabkan oleh air serta upaya untuk memanfaatkannya seoptimal mungkin.  Wilayah Kabupaten Boyolali secara umum merupakan daerah dengan kondisi hidrologi curah hujan tidak merata sepanjang tahun. Beberapa wilayah di Kabupaten Boyolali mengalami kekeringan atau rawan air bersih meliputi 9 Kecamatan yaitu Kecamatan Wonosegoro, Kecamatan Kemusu, Kecamatan Juwangi, Kecamatan Andong, Kecamatan Ampel, Kecamatan Boyolali, Kecamatan Musuk, Kecamatan Mojosongo, Kecamatan Klego (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Boyolali,2006).

Ketersedian air di wilayah Kecamatan Cepogo terdiri dari dari air permukaan (Kali Gandul yang melintasi Kecamatan Selo, Cepogo, Musuk, Mojosongo, Teras dan Sawit), air tanah, dan mata air (Candirejo, Tegalrejo, Jetak, dan Kali Grawah).

Jumlah penduduk Kecamatan Cepogo pada tahun 2008 sebanyak 52.500 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 25.802 jiwa dan perempuan 26.698 jiwa dengan tingkat kepadatan 991 jiwa/km² (Cepogo dalam angka 2008). Dari tahun ke tahun jumlah penduduk selalu mengalami pertumbuhan, hal ini secara langsung juga akan menyebabkan peningkatan kebutuhan air,khususnya kebutuhan air domestik.

Pemanfaatan air tentu akan sangat berkaitan dengan ketersediaan dan jenis pemanfaatan seperti pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik. Adanya berbagai kepentingan dalam pemanfaatan air dapat menimbulkan terjadinya konflik baik dalam penggunaan airnya maupun cara memperolehnya.  Seiring dengan bertambahnya penduduk maka persaingan untuk mendapatlkan air untuk berbagai macam kepentingan pun terus meningkat.

Dalam suatu perencanaan pembangunan wilayah harus memperhatikan mengenai apa yang harus dipersiapkan. Agar perencanaan dapat dilakukan dengan baik dan optimal maka juga harus memperhatikan faktor mengenai kependudukan dan kebutuhan air. Hal ini dimaksudkan agar supaya terjadi keseimbangan antara jumlah penduduk dan kebutuhan air dimasa mendatang. Maka sangat penting dilakukan analisis dan mengkaji mengenai tingkat kebutuhan air di Kecamatan Cepogo.

C.    Tujuan

Tujuan dari pemetaan Tingkat Kebutuhan air domestik Kecamatan Cepogo Tahun 2008 adalah untuk :

  1. Untuk mengetahui tingkat kebutuhan air domestik masing –masing Desa di Kecamatan Cepogo.
  2. Untuk mengetahui distribusi tingkat kebutuhan air domestik di Kecamatan Cepogo.
    Alat dan Bahan

    1. Laptop
    2. ARCVIEW  (software)
    3. Microsoft Word (software)
    4. Microsoft Excel (software)
    5. Data Statistik Kecamatan Cepogo 2008
    6. Peta RBI
  1. E.     Langkah Kerja
    1. Menyiapkan Peta RBI yang dibutuhkan dalam bentuk data digital (format JPEG).
    2. Meregistrasi Peta RBI di dalam program ARCVIEW agar wilayah yang dikehendaki dapat dipetakan.
    3. Mendeliniasi informasi yang diperlukan pada wilayah yang dipetakan dari Peta RBI.
    4. Menyiapkan data-data yang diperlukan.
    5. Memasukkan data yang diperlukan dalam tabel program ARCVIEW agar dapat diolah dan ditampilkan dalam peta.
    6. Membuat peta hasil.
    7. Melakukan export dari hasil pembuatan peta ke dalam bentuk format (JPEG)
    8. Melakukan analisis.
  1. F.     Dasar Teori

Menurut J. Kindler and C.S. Russel (1984), kebutuhan air untuk tempat tinggal (kebutuhan domestik) meliputi semua kebutuhan air untuk keperluan penghuni. Meliputi kebutuhan air untuk mempersiapkan makanan, toilet, mencuci pakaian, mandi (rumah ataupun apartemen), mencuci kendaraan dan untuk menyiram pekarangan. Tingkat kebutuhan air bervariasi berdaasarkan keadaan alam di area pemukiman, banyaknya penghuni rumah, karakteristik penghuni serta ada atau tidaknya penghitungan pemakaian air.

Menurut Ditjen Cipta Karya (2000) standar kebutuhan air ada 2 (dua) macam yaitu :

a.  Standar kebutuhan air domestik

Standar kebutuhan air domestik yaitu kebutuhan air yang digunakan pada tempat-tempat hunian pribadi untuk memenuhi keperluan sehari-hari seperti; memasak, minum, mencuci dan keperluan rumah tangga lainnya. Satuan yang dipakai adalah liter/orang/hari.

b.  Standar kebutuhan air non domestik

Standar kebutuhan air non domestik adalah kebutuhan air bersih diluar keperluan rumah tangga. Kebutuhan air non domestik antara lain :

1). Penggunaan komersil dan industri

Yaitu penggunaan air oleh badan-badan komersil dan industri.

2).   Penggunaan umum

Yaitu penggunaan air untuk bangunan-bangunan pemerintah, rumah sakit, sekolah-sekolah dan tempat-tempat ibadah.

Penentuan Kebutuhan Air Domestik

Untuk menentukan kebutuhan air untuk  keperluan domestik dilakukan dengan prosedur :

  1. Menentukan batasan administrasi dengan satuan terkecil Desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Cepogo.
  2. Menghitung jumlah penduduk pada masing – masing Desa.
  3. Menetapkan standar kebutuhan air penduduk/domestik berdasarkan nilai yang sudah ditetapkan.
  4. Menghitung besarnya kebutuhan air domestik dengan persamaan :

Qdomestik = Pt . Un

dimana :

Qdomestik = jumlah kebutuhan air penduduk

Pt  = jumlah penduduk pada tahun yang bersangkutan (jiwa)

Un  = standar kebutuhan air (liter/orang/hari)

Data jumlah penduduk Kecamatan Cepogo didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Boyolali.

Rata-rata pemakaian air bersih harian per orang Indonesia adalah 144 L atau setara dengan sekitar 8 botol galon air kemasan (Survey Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya pada tahun 2006).

Walaupun secara umum kebutuhan air bagi setiap orang berbeda-beda, perkiraan akan kebutuhan air dapat dikelompokkan dan dibuat berdasarkan kepentingan dan kebutuhannya. Sebagai contoh, jumlah air yang anda butuhkan untuk air minum tentunya lebih sedikit dan harus lebih bersih bila dibandingkan dengan air yang anda gunakan untuk mandi, begitu juga untuk kebutuhan yang lainya. Jadi dalam hal ini semua penduduk diasumsikan bahwa setiap hari untuk memenuhi kebutuhan domestik dianggap jumlahnya sama yaitu sebesar 144 liter.

  1. G.    Hasil
    1. Menyiapkan Peta RBI yang dibutuhkan dalam bentuk data digital (format JPEG).

Daerah yang akan dipetakan adalah Kecamatan Cepogo, untuk itu maka Peta RBI yang dibutuhkan adalah peta RBI yang mencakup wilayah tersebut.

  1. Meregistrasi Peta RBI di dalam program ARCVIEW agar wilayah yang dikehendaki dapat dipetakan.

Setelah menyiapkan RBI yang sudah dalam bentuk digital (format JPEG) maka akan dapat dilakukan proses regisrasi dalam sofware ARCVIEW. Proses registrasi ini dilakukan untuk mengetahui koordinat wilayah yang dipetakan dan nantinya akan mudah dalam melakukan pembuatan atau penyusunan peta.

  1. Mendeliniasi informasi yang diperlukan pada wilayah yang dipetakan dari Peta RBI.

Deliniasi dilakukan berdasarkan peta RBI yang telah diregistrasi. Deliniasi ini dilakukan untuk menyadap informasi yang ada dalam peta RBI dalam bentuk layer yang akan dapat diolah lebih lanjut dalam program ARCVIEW. Informasi yang dibutuhkan dari peta RBI misalnya wilayah administrasi, batas administrasi, jalan, sungai. Deliniasi dapat dilakukan dengan berdasarkan informasi yang akan diambil. Untuk wilayah administrasi dilakukan deliniasi dengan polygon tool. Hal ini karena wilaah admnistrasi merupkan bidang yang mempunyai luasan. Untuk batas administrasi, jalan dan sungai dilakukan deliniasi dengan polyline tool. Hal ini karena jalan, sungai dan batas administrasi dalam bentuk garis dan tidak memiliki luasan.

  1. Melakukan pengolahan data

Untuk dapat melakukan pengolahan data mengenai tingkat kebutuhan air maka diperlukan data sebagai berikut ;

  1. Jumlah penduduk Kecamatan Cepogo.
  2. Asumsi kebutuhan air domestik (144 liter perjiwa)

Menghitung besarnya kebutuhan air domestik dengan persamaan :

Qdomestik = Pt . Un

dimana :

Qdomestik = jumlah kebutuhan air penduduk

Pt  = jumlah penduduk pada tahun yang bersangkutan (jiwa)

Un  = standar kebutuhan air  (144 liter/orang/hari)

Berikut ini adalah tabel jumlah penduduk masing-masing Desa dan hasil perhitungan tingkat kebutuhan air.

  1. Melakukan penyusunan peta

Berdasarkan data yang telah dihitung, langkah selanjutnya yaitu menyusun peta jumlah penduduk dan peta tingkat kebutuhan air. Dalam penyusuna peta tersebut menggunakan peta administrasi Kecamatan Cepogo sebagai peta dasar (base map). Berikut ini adalah peta hasil yang telah dibuat :

  1. A.    Pembahasan

Dalam tugas SIG lanjut tema hidrologi saya membuat kajian mengenai Pemetaan Kebutuhan Air Domestik Kecamatan Cepogo tahun 2008. Dalam pemetaan tingkat kebutuhan air domestik bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan air domestik dan distribusi/persebaran tingkat kebutuhan air domestik. Untuk dapat melakukan pemetaan dan analisis tersebut diperlukan data mengenai jumlah penduduk dan asumsi kebutuhan air untuk kebutuhan standard air dalam sehari.

Data jumlah penduduk diperoleh dari Kecamatan Cepogo dalam Angka 2008, sedangkan untuk asumsi kebutuhan air adalah 144 L atau setara dengan sekitar 8 botol galon air kemasan (Survey Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya pada tahun 2006). Unit analisis yang digunakan adalah Kecamatan Cepogo, sedangkan Satuan analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah Administrasi Desa yang berada dalam Kecamatan Cepogo. Dalam Kecamatan Cepogo terdiri dari 15 adminsitrasi Desa.

Untuk dapat mengetahui berapa jumlah atau tingkat kebutuhan air pada masing-masing Desa diperlukan operasi matematika perkalian antara jumlah penduduk dikalikan dengan asumsi kebutuhan air domestik penduduk perjiwa yaitu 144 liter. Desa yang memiliki jumlah penduduk tertinggi secara otomatis juga menjadi daerah dengan tingkat kebutuhan air domestik yang paling tinggi juga, yaitu Desa Cepogo dengan jumlah penduduk 6.732 jiwa dan tingkat kebutuhan air domestik penduduk sebesar 969.408 liter. Sedangkan untuk Desa dengan jumlah penduduk paling rendah juga secara otomatis menjadi Desa dengan tingkat kebutuhan air domestik paling rendah juga yaitu Desa Bakulan dengan jumlah penduduk 1821 jiwa dengan tingkat kebutuhan air domestik sebesar 262224 liter.

Setelah perhitungan selesai dilakukan, maka selanjutnya adalah menyusun peta. Berdasarkan peta dasar/ base map,  kemudian didalam arc view disusun peta jumlah penduduk berdasarkan data atribut pada tabel yang jumlah penduduk. Lagkah yang sama digunakan juga untuk menyusun peta tingkat kebutuhan air dari data atribut dalam tabel tingkat kebutuhan air.

Dalam pembuatan peta jumlah penduduk dan peta tingkat kebutuhan air domestik menggunakan simbol bidang dengan warna, warna yang digunakan adalah gradasi warna. Warna terang memvisualkan data yang rendah, sedangkan semakin warna yang semakin gelap memvisualka data yang semakin tinggi.

Setelah pembuatan peta selesai dilakukan ,maka kita dapat mengetahui tingakatan kebutuhan air pada masing-masing Desa dan distribusi  tingkat kebutuhan air domestik pada Kecamatan Cepogo

  1. B.  Kesimpulan

Dalam pemetaan tingkat ketersediaan air di Kecamatan Cepogo dapat diketahui mengenai tingakat kebutuhan air domestik pada masing masing Desa dan dapat mengetahui distribusi tingkat kebutuhan air domsetik di Kecamatan Cepogo.

Dalam pembagian tingkat kebutuhan air domestik dihubungkan dengan jumlah penduduk masing-masing Desa, sehingga  di Kecamatan Cepogo dapat dikelaskan menjadi 3 kelas yaitu sebagai berikut:

  1. Kelas rendah, yang meliputi ; Genting, Wonodoyo, Jombong, Paras, dan Bakulan.
  2. Kelas Sedang, yang meliputi : Sukabumi,Gedangan,Sumbung,Kembang Kuning,Cabean Kunti, Gubug, Candi Gatak.
  3. Kelas Tinggi, yang meliputi : Cepogo,Mliwis, dan Jelok.

Ketersediaan akan berbenturan dengan kebutuhan, maka selayaknya fungsi manajemen perencanaan wilayah sangat penting untuk dilakukan seperti dalam manajemen air untuk kebutuhan domestik.

 Daftar pustaka

    1. Badan Standardisasi Nasional. 2002. Penyusunan neraca sumber daya Bagian 1: Sumber daya air spasial .Standar Nasional Indonesia, SNI 19-6728.1-200.
    2. Yulistiyanto, Bambang dan Kironoto, BA. 2008. Analisa Pendayagunaan Sumberdaya Air Pada WS Paguyaman dengan RIBASIM. Media Teknik No 2 Tahun XXX Edisi Mei 2008 ISSN 0216-3012
    3. Statistik Kecamatan Cepogo tahun 2008.
    4. http://younggeomorphologys.wordpress.com/2011/03/19/konsepsi-kebutuhan-air-batasan-dan-cara-perhitungannya/
    5. http://benkoenairbersih.blogspot.com/2010/03/bagaimana-menghitung-kebutuhan-air.html.